Senin, 09 Maret 2015

Selamat Datang di website : BPC SARAS SURABAYA



PENJABARAN DAN RINCIAN 5 AMALAN WAJIB

AMALAN KE-1
Patuh dan Taat Kepada Allah, Tuhan Yang Maha Esa

Bahwa patuh dan taat kepada Allah, Tuhan Yan Maha Esa merupakan sikap para Nabl dan Rosul sertjak hamba-hamba Allah yang sadar dan mengertl, serta meyakini pada Sunatullah (Hukum Tuhan) dan Dinullah (Hukum Agama).
Dasar hukumnya adalah AI-Our'an; Surat., Ayat 285 dan beberapa Hadits Nabi; yang artinya "Aku dutus untuk menyempurnakan akhlaq yang mulia”.
Secara rinci penjabaran Patuh dan Ta'at kepada Allah, Tuhan Yang Maha Esa adalah:

1.     Percaya dan yakin adanya Allah, Tuhan Yang Maha Esa
2.     Percaya dan yakin pada kehendak dan kekuasaan-Nya.
3.     Mengurangi keegoan manusia agar mampu menyesuaikan dengan kehendak Tuhan Yang Maha Esa;
4.     Berusaha mengendalikan dan meminimalkan tujuh penyakit hati;
5.     Tldak menggantungkan kekuasaan pada selain Tuhan Yang Maha Esa, sehingga tidak terjadi musyrik;
6.     Melaksanakan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya;
7.     Tidak merendahkan atau menghina kepercayaan orang lain dan saling menghormati dalam beribadah sesuai agama dan kepercayaannya masing-masing;
8.     Selalu berupaya meningkatkan kuantitas dan kualitas dalam beribadah;
9.     Selalu intropeksi diri untuk memperbaiki diri;
10.  Menjalin kerukunan antar sesama manusia tanpa memandang ras, etnis, suku, bangsa, maupun agama serta menjaga persatuan dan kesatuan bangsa.

AMALAN KE-2
Patuh dan Taat Kepada Kedua Orang Tua

Amalan wajib ini bermakna bahwa disamping kehendak dan kuasa Allah, tanpa kedua orang tua, maka tidak akan pernah ada kelahiran. Orang tua adalah tuhan metamorphosis atau menurut pepatah Jawa “minongkop pangeran katon”., sehingga jabatan orang tua identik dengan “jabatan Tuhan”, Ia melindungi, mengatur, membina, dan mendidik dari sejak di dalam kandungan, kemudian lahir hingga dewasa dengan sangat tulus, ikhlas tanpa pamrih.

Berkaitan dengan itu Nabi Muhammaad SAW dalam sebuah Hadist menyebutkan : “Ridho Tuhan/Allah, tergantung pada ridho keua orang tua”, Sedangkan wasiat Allah tertera dalam Al Quran surat Lukman ayat 13, Allah mewasiatkan kepada umat manusia untuk selalu berbuat baik kepada kedua orang tuanya (terutama ibu) yang mengandungnya dalam keadaan lemah dan bertambah lemah dan menyapihnya dalam waktu 2 tahun agar manusia dapat bersyukur kepada-Ku dan kepada kedua orang tuamu.

Surat yang berkaitan dengan kewajiban untuk patuh kepada kedua orang tua  tertera secara eksplisit pada OS: AI-Israa’ ayat 22-23, Al Baqarah ayat 36 dan beberapa ayat yang lainnya.

Secara rinci penjabaran patuh dan taat kepada kedua orang tua adalah sebagai berikut:

1.    Berbhakti kepada kedua orang tua, yaitu orang tua sendiri maupun morotuwo/mertua (bagi yang sudah bekeluarga);
2.      Mematuhi nasehat kedua orang tua, kecuali menyekutukan Tuhan;
3.  Ucapan dan perbuatan tidak menyakiti kedua orang tua, namun berusaha menyenangkan dan menenangkan kedua orang tua;
4.    Tidak mengucilkan kedua orang tua dan berusaha berbuat baik kepada kedua orang tua seperti apapun kondisinya;
5.    Menyadari kekurangan dan kelemahan kedua orang tua, mencontoh yang baik, tidak meniru yang jelek;
6.    Berusaha menjunjung tinggi nama orang tua, baik  pada saat orang tua masih hidup maupun sudah meninggal.

AMALAN KE-3
Patuh dan Taat Kepada Negara Yang Melindungi


Dewasa ini negara kita sedang mengalami krisis multidimensi. Ikatan komunitas sosial sangat rentan sekali oleh cepatnya intervensi informasi yang menyebar melalui berbagai macam media. Pemberdayaan informasi yang substansinya seringkali luas dan dangkal justru menjadi acuan dalam menerapkan berbagai aturan maupun landasan dalam terapi persoalan-persoalan yang berkembang, parahnya perkembangan kultur justru membolehkan setiap kelompok kecil untuk bebas berpendapat tanpa pertimbangan yang lebih besar.

Amalan ketiga ini merupakan jawaban atas kondisi sosial yang berkembang sehingga bisa dihindarkan benturan persepsi yang mengakibatkan perpecahan. Untuk itu amalan ketiga merupakan amalan penting agar diamalkan untuk terciptanya kehidupan yang damai dalam kehidupan sosial dan bermasyarakat. Patuh dan taat kepada negara/pemerintah yang melindungi tidak lain merupakan pengejawantahan sekaligus step yang berikutnya bagi prinsip pokok amalan kedua, yaitu patuh dan taat kepada kedua orang tua.

Analogis sederhana adalah: kepatuhan dan ketaatan kepada kedua orang tua akan membentuk keluarga yang ideal, dan kumpulan keluarga kecil yang ideal membentuk masyarakat dan sekumpulan masyarakat membentuk negara yang tentunya melahirkan pemimpin yang menghantarkan bangsa ini pada suatu impian dan citacita luhur, suatu kehidupan masyarakat bahagia lahir dan batin. Kaitan amalan ketiga ini adalah diisyaratkan dalam sabda Rosul Muhammad SAW yang diwirayatkan oleh Iman Ahmad bin Hambali: "tidak diperkenankan bagi tiga orang atau lebih yang berada di sebuah lokasi di bumi ini kecuali menetapkan salah satu diantara mereka sebagai pemimpin". Amalan ketiga ini diperkuat dalam OS: An-Nisa ayat 59, dengan abstraksi ringkas bahwa sebagai warga negara kita wajib patuh dan tunduk pada peraturan dan perundangundangan yang diterbitbkan apapun konsekwensinya.

Keberadaan negara merupakan wadah kita untuk hidup merdeka, tenteram, aman, damai, beribadah dengan aman, wahana beribadah dengan berbuat baik untuk kepentingan orang banyak dan keluarga, dan wadah untuk mencapai tujuan bersama.
Secara rinci penjabaran Patuh dan Taat kepada Kepada negara yang melindungi adalah:

1.         Mengabdi kepada bangsa, dan negara;
2.         Mengamalkan Pancasila dan UUD 1945;
3.     Berjuang dan bekerja keras tanpa pamrih dengan loyalitas dan integritas yang tinggi untuk mencapai kejayaan bangsa dan negara;
4.         Mematuhi hukum dan peraturan yang berlaku;
5.  Meningkatkan ilmu, teknologi, seni, profesionalisme, dan mengamalkannya untuk kemaslahatan orang banyak;
6.         Membela negara, menjaga persatuan dan kesatuan demi utuhnya bangsa dan negara.


AMALAN KE-4
Berbuat Baik Kepada Sesama Umat
Fitrah manusia yang cenderung untuk mengejar sukses dan bahagia (takdir baik) dan menghindarkan diri dari keadaan yang tidak sesuai harapan, menuntun manusia pada suatu benturan keinginan antara yang satu dengan yang lain, antara kelompok satu dengan yang lain juga benturan kepentlngan antar bangsa. Kondisi untuk saling mementingkan ego pribadi, ego sosial maupun ego bangsa seringkali menimbulkan perpecahan dan konflik berkepanjangan.

Sejarah kesuksesan dalam masyarakat di zaman Nabi Muhahammad mengajarkan pada kita bahwa ketika Nabi Hijrah dari Mekah ke Madinah, di dalamnya sudah terbentuk masyarakat yang damai sejahtera meskipun heterogenitas sangat beragam.

Heterogenitas yang dimaksud adalah keragaman suku, agama, maupun ras yang beragam. Kondisi yang dllmplkan masyarakat seperti yang dimaksud di atas berangkat dari isyarat Allah yang tercantum pada AI- Qur'an sur.at AI-Maidah ayat 2: "Dan saling tolong menolonglah kallan dalam hal kebaikan dan ketaqwaan, janganlah kamu saling tolong menolong dalam hal dosa dan permusuhan".

Adalah wajib kita mengimani ayat ini untuk diamalkan dalam kehidupan bermasyarakat.

Secara rinci penjabaran berbuat baik kepada sesama umat adalah:

1.        Saling membantu, talong menolong dan bekerja sama antara sesama manusia dalam hal kebaikan, tanpa memandang ras, suku, etnis, agama, maupun bangsa;
2.      Tanggap dan peduli untuk membantu terhadap permasalahan yang terjadi pada individu, masyarakat, bangsa, dan negara, dengan mengutamakan keikhlasan dan tidak diskriminatif;
3.         Toleransi dan saling menghormati kepada sesama umat;
4.         Berlomba-Iomba untuk berbuat kebaikan kepada sesama umat;
5.         Berakhlak mulia kepada sesama umat
6.         Menghormati pelaksanaan ibadah menurut keyakinan agama dan kepercayaannya masing-masing, serta saling menjaga antar satu dengan yang lain.

AMALAN KE-5
Mentafakuri dan Mensykuri Segaa Ketetapan Allah
Keadaan metafisik yang nampak dalam kehidupan, seperti adanya perputaran siang dan malam, adanya bumI dan langit, laki-Iaki dan perempuan, baik dan buruk, sehat dan sakit, senang maupun susah hlngga keadaan mati dan hidup, merupakan suatu keadaan pasangan yang serba dua. Hikmah dari kondisi nyata yang selalu dihadapi manusia dalam menjalankan fitrahnya adalah agar manusla menyikapi keadaan yang serba dua dengan menciptakan keseimbangan.

Pada akhirnya kalau dihayati, bahwa setlap keadaan yang serba dua pada akhirnya senantiasa menguntungkan manusia sebagai ciptaan Tuhan. Hallnl dapat dlslmpulkan bahwa hidup di dunia sudah dalam rencana Tuhan AIIah.

Pada akhirnya manusia diwajibkan mentafakurl setlap kondisi (takdir jelek maupun takdir baik) yang mewuJudkan rasa bersyukur dalam keadaan dan kondisi apapun. Secara rinci penjabaran mentafakuri dan mensyukurl semua ketetapan Allah adalah sebagal berikut:

1.         Memahami, mengerti, dan meyaklnl Tuhan Yang Maha Esa bukan hanya nama-Nya, namun yang lebih utama adalah meyakini sifat dan kebesaran-Nya
2.         Meyakini dan melaksanakan kehendak, ketetapan dan kekuasaan Tuhan Yang Maha Baik dan Penyayang;
3.         Meyaklnl dan menerima qadla' dan qadar Tuhan Yang Maha Esa
4.         Bertafakur terhadap segala nikmat, anugerah, dan ujian yang terjadl pada diri kita dan lingkungan sekltarnya
5.         Menerima dan berfikir terhadap perjalanan dan realita hldup yang terjadi pada diri kita dan lingkungan sekltarnya: dan dapat mengambil hikmahnya untuk Intropeksl dlrl, memperbaiki diri, menambah pengetahuan serta kedewasaan, dan peningkatan kelmanan.
6.         Mensyukuri semua ketetapan Tuhan yang terjadi pada din klta maupun .orang lain, baik yang sesuai maupun yang tldak sesual dengan harapan. Sehingga tidak ada upaya untuk mengatur Tuhan dan ingkar tehadap anugerah Tuhan sekecil apapun.